Difteri, Penyakit Menular Anak

Bookmark and Share
DIFTERI merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya pada anak-anak. Penyakit ini mudah menular dan menyerang terutama daerah saluran pernapasan bagian atas. Penularan biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi.


Menurut dr Agustining Rahayu dari Balikpapan, difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini diberi nama serupa dengan kuman penyebabnya.

“Difteri adalah penyakit infeksi akut yang mudah menular, yang diserang terutama saluran napas bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannya eksotoksin,” jelas wanita yang akrab disapa dr Ayu ini.

Dijelaskan, pada penyakit ini terdapat imunitas bawaan sampai anak usia sekira tiga bulan. Gejalanya, biasanya penderita mengeluh sakit menelan dan napasnya terdengar seperti orang mengorok (stridor).

Ayu mengungkapkkan, penderita tampak sesak napas dengan atau tanpa ada tanda obstruksi napas dan demam yang tidak terlalu tinggi. Pada pemeriksaan tenggorokan nampak selaput putih keabu-abuan yang mudah berdarah bila disentuh.

“Kadang-kadang dapat juga disertai gejala perdarahan pada hidung, sumbatan jalan napas, napas yang berbau,” ungkapnya. Di samping itu, tambahnya, juga ditemukan adanya pembesaran kelenjar limfe.

Dijelaskan, kuman difteri hidup pada selaput lendir rongga mulut, tenggorokan, dan hidung pada orang yang terinfeksi dengan kuman ini. Penyebaran adalah melalui udara pernapasan yang mengandung kuman difteri, kontak langsung dengan percikan lendir saluran napas yang mengandung kuman.

Dengan pengobatan yang cepat dan tepat maka komplikasi yang berat dari penyakit ini dapat dihindari, namun keadaan bisa makin buruk bila pasien dengan usia yang lebih muda, perjalanan penyakit yang lama, gizi kurang dan pemberian anti toksin yang terlambat.

Walaupun sangat berbahaya dan sulit diobati, penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan cara menghindari kontak dengan pasien difteri yang hasil lab-nya masih positif. Sedangkan, pencegahan yang paling efektif adalah dengan memberikan imunisasi atau vaksin DPT.

Melihat bahayanya penyakit ini, beber dr Ayu, maka bila ada anak yang sakit dan ditemukan gejala diatas maka harus segera dibawa ke dokter atau rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan. Pasien biasanya akan masuk rumah sakit untuk diopname dan diisolasi dari orang lain guna mencegah penularan.

Mengenai obat, tuturnya, penderita umumnya akan diberikan antibiotika. Antibiotik diberikan dalam jangka waktu tertentu untuk mengeliminasi kuman, menghentikan produksi racun oleh kuman, dan mengobati infeksi lokal saluran napas bagian atas.

“Istirahat total sangat dibutuhkan, terutama pada anak dengan tanda-tanda komplikasi pada jantung,” tandasnya.

Untuk pencegahan difteri disarankan mengkonsumsi secara rutin produk perlebahan dari high desert yaitu Bee Propolis dan Honey Bee Pollen yang bermanfaat untuk daya tahan tubuh, perbaikan jaringan dan pemberian gizi lengkap.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar

Powered By Blogger